Studi
Politik Ekonomi Dalam Permulaan Wacana
Development
Pendahuluan
Gagasan Devlopment pada awalnya
adalah merupakan suatu fenomena luar biasa, dimana sebuah gagasan begitu
mendominasi dan mempengaruhi pikiran bangsa-bangsa Dunia Ketiga, bahkan secara
global. Gagasan 'development' nyaris menjadi 'agama
baru'. Development menjanjikan
harapan baru untuk memecahkan masalah masalah kemiskinan dan keterbelakangan
bagi berjuta juta rakyat di Dunia Ketiga. Istilah'development' tersebut,
kini telah menyebar dan dipergunakan sebagai visi, teori dan proses yang
diyakini oleh rakyat dihampir semua negara, khususnya dunia ketiga, dengan
diterjemahkan kedalam bahasa dengan menggunakan kata yang sesuai dengan bahasa
lokal di masing- masing negara. Dinegara-negara Amerika Latin misalnya,
kata ini disamakan dengan kata 'dessarollo'. Bahkan di negara yang
belum memiliki bahasa nasional seperti di Filipina misalnya, kata yang
dipergunakan untuk melokalkan 'development' adalah dalam tiga
bahasa daerah utama, yakni'pang-unlad' untuk bahasa Tagalok, sedang
dalam bahasa Ilongo adalah'pag-uswag', dan dalam bahasa Ilocano
menjadi 'progreso'. Di Indenesia, kata 'development' diterjemahkan
dengan 'pembangunan'.
Kata
'pembangunan' menjadi wacana yang dominan di Indonesia erat kaitannya dengan
munculnya “pemerintahan orde baru”. Selain sebagai semboyan mereka, kata
'pembangunan' juga menjadi nama bagi pemerintahan orde baru, hal itu bisa
dilihat bahwa nama kabinet sejak pemerintahan Orde Baru, selalu dikaitkan
dengan kata 'pembangunan', meskipun kata 'pembangunan' sesungguhnya telah
dikenal dan dipergunakan sejak masa orde lama. Kata pembangunan dalam konteks
orde baru, sangat erat kaitannya dengan 'wacana development' yang dikembangkan
oleh negara negara Barat.
Uraian
berikut mencoba melakukan penyelidikan secara kritis terhadap konsep 'development',
yang menjadi sumber dari pemikiran 'pembangunan' di Indoneisa. Oleh karena itu
perhatian uraian ini tidaklah mengusahakan tinjauan dari segi bahasa, melainkan
mencoba menstudi politik ekonomi dalam permulaan wacana development, dan bagaimana
development disebar-serapkan kedunia
ketiga, serta hubungannya dengan wacana 'pembangunan' di Indonesia sejak
pemerintahan militer Orde baru.
1.
Tentang
Konsep Pembangunan
Jika
dilihat dari pengertian dasarnya, tidak ada suatu konsep dalam ilmu ilmu sosial
yang serumit dan tidak jelas seperti kata tersebut. Istilah 'pembangunan'
dipakai dalam bermacam macam kontek, dan seringkali dipergunakan dalam konotasi
pilitik dan ideologi tertentu. Ada banyak kata yang mempunyai makna
dengan kata pembangunan, seperti misalnya perubahan sosial,
pertumbuhan, kemajuan, modernisasi. Dari kata-kata tersebut hanya istilah perubahan sosial yang memberi makna perubahan
kerah lebih positif. Oleh karena makna pembangunan bergantung pada kontekS siapa yang menggunakannya dan
untuk kepentingan apa, maka uraian mengenai pengertian pembangunan akan dilihat
dari kontek sejarah bagaimana istilah tersebut dikembangkan.
Jika
dilihat dari konteks sejarahnya mengapa dan bagaimana developmentalisme diciptakan, jelas bahwa
gagasan tersebut justru dikembangkan dalam rangka membendung pengaruh dan
semangat anti Kapitalisme bagi berjuta juta rakyat di Dunia Ketiga. Gagasan
development dimulai tahun 1940an, khususnya pada tanggal 20 Januari 1949, yakni
pada saat President Amerika Harry S.Truman mengumumkan kebijakan pemerintahnya,
maka istilah development dan "underdevelopment"
resmi menjadi bahasa dan doktrim kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
Selain lebih dimaksud untuk memberi jawaban atas penolakan bangsa Dunia Ketiga
yang baru merdeka atas kapitalisme, juga sebagai jawaban ideologi terhadap
meningkatnya daya tarik rakyat Dunia Ketiga terhadap keberhasilan Uni Sovyet
sebagai kekuatan baru. Oleh karena itu jelas bahwa gagasan development mulanya
dilontarkan dalam kerangka 'perang dingin' yakni suatu kebijakan untuk
membendung Sosialisme di Dunia Ketiga. Tidaklah mengherankan jika banyak para
penganalisa menempatkan bahwa gagasan development pada dasarnya adalah
merupakan bungkus baru dari kapitalisme.
2. Penyebaran Pikiran Development
Pada Dunia Ketiga
Bagaimana
pikiran development (Kapitalisme)
tersebut disebar luaskan kedunia ketiga?. Para pakar ilmu ilmu
sosial pada tahun 1950 an dan 1960 an, memainkan peran diskursive yang
penting. Mereka yang berafiliasi pada the Center for
International Studies di Massachusetts Institute of Technology (MIT)
pada saat itu membantu membangun akademik wacana tentang development. Dalam
tahun 1968, para pakar ilmu ilmu sosial Amerika menjadi terlibat secara
mendalam dalam mempengaruhi kebijakan Amerika untuk globalisasi wacana tentang development dan modernisasi. Para
pakar ilmu- ilmu sosial yang diminta oleh pemerintah Truman untuk
mengembangkan suatu "Conference on the implementation
of Title IX of the Foreign Assistance Act of 1961."dimana tugas utama
mereka melakukan studi tentang bagaimana kebijakan untuk melahirkan the
Foreign Assistance Act of 1966, dimana dominasi interpetasi ilmuan liberal
terhadap konsep Development. (Millikan and Pye: 1968 dan Gendzier,I. 1985: p.69-74)). Itulah masa dimana
mereka sangat produktif dalam menciptakan pengetahuan dan teori development dan
modernisasi. Ekonom seperti Rostow menemukan "Growth
theory."nya, dan waktu itu pula McClelland dan Inkeles menemukan
teori Modernisasimereka. Salah satu hasil penting studi mereka
adalah bahwa gagasan developnment dan modernisasi harus menjadi pilar utama
bagi kebijaksanaan program bantuan dan politik luar negeri Amerika.
Meskipun
teori modernisasi bermacam macam, namun mereka meyakini satu hal yang sama
yakni bahwa faktor manusia (bukan struktur dan sistem) menjadi fokus
utama perhatian mereka. Pertama, yang menggunakan metafora pertumbuhan
yakni tumbuh sebagai organisme. Mereka melihat development sebagai proses
evolusi perjalanan dari traditional ke modern. Pikiran ini dapat dijumpai
dalam teori pertumbuhan yang sangat terkenal yakni "the
five-stage scheme" yang dikembangkan oleh W.W. Rostow
(1960). Asumsinya adalah bahwa semua masyarakat termasuk masayarakat Barat
pernah mengalami 'tradisional' dan akhirnya menjadi
"modern." Sikap manusia tradisional disini dianggap
sebagai masalah. Seperti pandangan Rostow dan pengikutnya, development akan
berjalan secara hampir otomatis melalui akumulasi modal (tabungan dan
investasi) dengan tekanan bantuan dan hutang luar negeri. Dia
memfokuskan pada perlunya elite wiraswasta yang menjadi motor proses itu.
Pandangan lain didasarkan studi McClelland,
Inkeles and Smith (1961). Berdasar tafsiran McClelland atas Max Weber, jika
Etika Protestant menjadi pendorong pertumbuhan di Barat, analog yang sama juga
bisa untuk melihat pertumbuhan ekonomi. Apa rahasia pikiran Weber tentang Etika
Protestant menurutnya adalah "the need for achievement" (N Ach).Alasan
mengapa rakyat Dunia Ketiga terbelakang menurutnya karena rendahnya "Need
for Achievement" tersebut. Sekali lagi disini sikap dan
budaya manusia yang dianggap sebagai sumber masalah. Dan prototipe
dari 'the achieving society' pada dasarnya adalah masyarakat
kapitalis.
Konsep development
dan modernisasi yang kemudian serta merta dianut oleh berjuta juta rakyat di
Dunia Ketiga tersebut pada dasarnya merupakan refleksi dari paradigma Barat
tentang perubahan sosial. Development, diidentikan dengan seperti gerakan
langkah demi langkah menuju 'higher modernity.' Yang dimaksud
modernitas disini merefleksi pada bentuk perkembangan dan kemajuan
teknologi dan ekonomi seperti yang dialami oleh negara negara industri. Konsep ini mempunyai akar sejarah
dan intektualitas perubahan sosial yang diasosiasikan dengan revolusi industri
di Eropa. Interpretasi konsep development disebagian besar Dunia
Ketiga dipahami melulu sebagai'general improvement in the standard of
living'.
Sebentar saja, gagasan Development dan modernisasi menjadi program massif. Selain
menjadi doktrin politik bantuan luar negeri Amerika baik pada pemerintah Dunia
Ketiga maupun LSM, juga serempak hampir di setiap universitas di Barat membuka
suatu kajian baru yang dikenal dengan 'Development Studies'.
Melalui Development Studies di Barat
ini, proses penyebar serapan kapitalisme dipenjuru dunia dipercepat, yakni
melalui teknokrat, intektual dan bahkan aktivist LSM dari Dunia Ketiga yang
menjadi pasar utama program studi tersebut. Escobar (1990) menggambarkan proses
ekspansi wacana development melalui
penciptaan network kelembagaan (seperti lembaga dana internasional,
universitas, lembaga riset, badan perencana pembangunan) demi memfungsikan
aparat developmentalisme dan begitu
terkonsolidasi mereka menentukan apa yang harus dibicarakan, dipikirkan,
diidamkan, pendek kata semua diarahkan menuju kearah gagasan developmentalisme
dan modernisasi.
Tidak hanya itu, bahkan team ahli ilmu-ilmu sosial
tersebut mengajukan proposal untuk menggunakan berbagai cara untuk
mendeseminasikan ideologi 'development' dan modernisasi
tersebut dengan target khusus bangsa dunia Ketiga. Pertama, saran mereka, untuk menggunakan pengaruh Amerika Kebijakan Ekonomi
dan Perencanaan. Mereka tahu bahwa bahwa bantuan Amerika selama ini
sangat effective dalam mempengaruhi
kebijakan dan perencanaan ekonomi. Kedua, untuk mendidik pemimpin dunia ketiga,
baik dalam bentuk training, maupun perjalanan observasi ke Amerika
Serikat. Strategi ini konon diusulkan berdasar pengalaman peran pemimpin
mahasiswa dalam menghancurkan pemerintahan nasionalis Indonesia tahun 1966
(Millikan and Pye: 136). Saran ketiga, adalah dengan menggunakan sarana agama. Banyak studi
agama bahkan mulaui diarahkan pada peran agama dalam development, sehingga perlunya 'sekularisasi' menjadi bahasa resmi
pemimpin agama dunia ketiga. Sedangkan yang terakhir, adalah untuk menggunakan
fungsi training dan research dari tenaga universitas Amerika yang bekerja
diluar negeri atas biaya USAID. (Millikan and Pye,1968. p:165).
Pengetahuan
akan Development yang diproduksi oleh
negara Barat dan dikrimkan ke rakyat Dunia Ketiga bukanlah pengetahuan neutral,
selain syarat dengan ideologi Barat juga terkandung nafsu untuk
mengontrol. Melalui wacana development, dunia pertama menetapkan kontrol
mereka pada dunia ketiga, dimana dunia ketiga mula- mula diberi
label 'kekurangan' tentang hal hal yang dapat dipenuhi
oleh technology dan keahlian profesional. Dan hubungan inilah menurut Mueler
disebut sebagai hubungan imperialisme (Mueller, 1987). Escobar
(1984) menggunakan analisa Foucault tentang wacana terhadap pembangunan. Wacana development selanjutnya tidak memberi
legitimasi segala bentuk cara dan pengetahuan 'non-positivistic' seperti cara
pertanian tradisional digusur oleh green revolution serta
menghancurkan segala bentuk sosial formasi yang non-capitalistik. Seperti tradisi "gotong
Royong" di Jawa telah diganti oleh hubungan yang kapitalistik. Dan
terkahir ide development menghancurkan segala bentuk proses
politik dengan apa yang dikenal doktrin modernisasi politik. Itu semua
menujukkan bahwawacana development merupakan suatu proses pendominasian
secara intellektual, politik, ideologi, ekonomi dan budaya.
Invasi
kultural, politik, dan ekonomi development
selain didukung pemerintah Amerika Serikat juga didukung oleh lembaga lembaga
dana internasional seperti bank Dunia dan IMF. Hayter (1985) mencatat
adanya konsistensi secara ideologi dari Bank Dunia terhadap ideologi
development. (Hayter,1985: 111). 'Development
aid' sering dikembangkan dalam rangka menjaga status quo. Mereka mengikat
negara berkembang pada ekonomi negara kaya. Bagian terbesar dari apa yang
disebut aid biasanya digunakan oleh pemerintah Dunia Ketiga untuk melayani
loans Bank Dunia. sebagian yang lain dijatahkan oleh pemberi bantuan dalam
rangka melicinkan exports serta medukung kepentingan bisnis
mereka sendiri yang mereka tanamkan di Dunia Ketiga (Kruijer,1987. p.116).
3. Proses Berkembangnya Wacana
Development di Indonesia
Demikian
wacana development tersebut
berkembang, dan dimasing-masing
negara berkembang wacana tersebut lebih dikembangkan secara mendalam lagi
hingga sampai dipedesaan. Di Indonesia, ideologi developmentalisme yang kemudian diterjemahkan dalam pembangunan
tersebut dikembangkan melalui mekanisme kontrol ideologi, sosial dan politik
yang canggih. Untuk melindungi ideologi pembangunan tersebut, pemerintah
menegakkan berbagai pendekatan seperti: pertama, menegakan'the floating
mass policy', yakni suatu kebijakan yang
melarang semua organisasi masa pada tingkat desa. kedua, menggeser
sistim pemilihan lurah yang dilakukan secara demokratis, dan menggantikannya
dengan penempatan seorang militer sebagai kepala desa. Ketiga,
memperkokoh organisasi militer sampai tingkat kecamatan, dan menempatkan
seorang militer untuk setiap desa (Babinsa). Keempat, menciptakan
KUD sebagai satu satunya Koperasi yang diizinkan opersai ditingkat kecamatan,
sertaterkahir menciptakan pertauran pemerintah desa sejak tahun
1979, untuk menggantikan tradisi 'rembuk desa' dengan lembaga desa yang dikontrol
oleh pemerintah (Sasono,1987).
Pembangunan
juga dikembangkan melalui pendidikan, baik formal, mulai dari sekolah dasar
hingga perguruan tinggi, maupun non formal seperti dalam kursus- kursus,
seminar dan penataran hingga ke khutbah dan pengajian di majlis taklim dan
masjid masjid. Program pembangunan dikembangkan dan diselenggarakan baik
melalui organisasi besar dalam departemen pemerintah dengan skala besar dan
nasional, sampai ditingkat pedesaan yang didukung oleh banyak Lembaga Swadaya
Masyarakat dengan skala kecil tingkat lokal. Sehingga
bagi rakyat Indonesia, gagasan pembangunan telah diterima tanpa
pertanyaan. Umumnya perdebatan hanya
dilakukan dalam tingkat cara, metodologi serta teknik pelaksananya belaka, dan
bukan pada level prinsipnya. Itulah mengapa bisa disimpulkan bahwa 'developmentalisme' dewasa
ini sudah diyakini oleh sebagain besar birokrat pemerintahan, akademisi, dan
bahkan aktivis LSM di Indonesia sebagai satu satunya jalan menuju masyarakat
sejahtera.
4. Persoalan Mendasar sebagai Penutup
Lantas
persoalannya apa? Letak masalahnya adalah, apakah ideologi dan
teori Development dan modernisasi yang kini menjadi the mainstream teori dan
praktek perubahan sosial itu, sejak dalam gagasan dan konsepsi dasarnya
terkandung gagasan akan terciptanya dunia yang secara mendasar lebih baik dan
lebih adil? Apakah gagasan development' yang diciptakan sebagai bungkus baru
dari kapitalisme yang diniatkan dalam rangka membendung pengaruh sosialisme itu
mampu menghancurkan struktur ekonomi yang eksploitatif; menyingkirkan proses
budaya dan pengetahuan yang dominatif, melenyapkan sistim politik yang
represif, melindungi lingkungan, serta melenyapkan dominasi terhadap perempuan,
sejak dari konsep dasarnya? Inilah persoalan mendasar kita semua. Karena justru
untuk menganalisis dan mengevaluasi sebuah teori kita memerlukan kacamata, dan
berbeda kaca mata akan menghasilkan penilaian yang berbeda pula.
Kacamata-kacamata yang dipakai untuk melihat dan menganalisa perubahan sosial
inilah yang sering disebut paradigma perubahan sosial.
Dosen tetap pada Program Studi Sosiologi FIS UNM
Makassar. Ketua Program studi IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial) pada Pascasarjana
UNM Makassar. Pengampu matakuliah Teori Perubahan Sosial dan Pembangunan pada
program studi Sosiologi S1 FIS, S2 dan S3 Program Pasca Sarjana di UNM
makassar. Pendiri dan Ketua Kelompok studi Salangketo Gunungsarian Makassar.
Gendzier, Irene. Managing Political Change:
Social Scientists and the Third World Boulder. Colorado: Westview
Press. 1985. Juga Douglas Lummis,” Development Against Democracy"
dalam Jurnal Alternatives Vol.16,no.1.1991.
Gendzier, Irene. ibid (1985)
Walt Whitman Rostow adalah
bekas Professor MIT, yang pindah ke Gedung Putih menjadi penasehat Presiden
Johnson. Lihat, Gettleman,M.E. and D. Mermelstain. The Great Society
Reader. The Failure of American Liberalism. New York: Vintage
Book.1967. Uraiannya tentang Growth Theory, lihat: Rostow, W.S. The
Stages of Economic Growth: A Non-Communist Manifesto. New York:
Cambridge University Press, 1960. Sedangkan uraian Modernisasi lihat: Inkeles,
Charles and Smith, David. Becoming Modern. Massachusetts: Harvard
University Press, 1974. Mc Clelland, David.C. The Achieving
Society. New York: D.Van Nostrad. 1961.
Asumsi yang sama juga dianut oleh banyak penganut
modernisasi seperti dalam antropologi di Indonesia pikiran Kuncoroningrat, juga
dalan paham modernisasi Islam di Indonesia. Keterbelakangan umat Islam,
menurut hemat mereka adalah akibat dari 'ada yang salah dalam teologi yang
dianut umat Islam. Mereka menuduh teologi tradisional yang fatalistik, sebagai
penyebab masalah. Asumsi itu dianut oleh kaum modernist sejak Muhammad Abduh
atau Jamaluddin Afgani sampai kelompok pembaharu saat ini seperti Gerakan
Muhammadiayah dan Nurcholish Madjid c.s. Lihat: Dr. Harun Nasution,Pembaharuan
Dalam Islam, Jakarta; Bulan Bintang, 1978. serta majalah Ulumul
Kuran tahun 1993.
The role of US universities and Indonesian technocrats
in in the process economic, political and ideological change and Development in
Indonesia in the 1960s had been explored by several researchers. See
David Ransom "The Berkeley Mafia" in Ramparts, No.9,
(1970). See Mortimer, Rex.(ed.). Showcase State; TheIllusion
of Indonesia's 'Accelerated Modernization' Sydney: Angus and
Robertson. 1973. See also Liddle, William. "Modernizing Indonesian
Politics" in William Liddle (ed.). Political Participation
in Modern Indonesia. Monograph Series No.19. New Heaven: Yale
University Souteast Asian Studies. 1973.
Michel Foucault, apa akhir tahun 1960 dan awal 1970 an
memnyumbangkan gagasan kritik dalam pikiran bagaimana makna dikonstruksi.
Baginya 'knowledge is not something that can exist apart from power
relations'. Karyanya dalam wacanas mempunyai implikasi radikal tidak saja
pada sisplin ilmu humaniora, seni dan sastra tapi human semua pengetahuan.
Escobar (1978) meminjam analisanya untuk menganalisa hubungan dunia pertama dan
ketiga melalui development.

Posting Komentar