Studi
Politik Ekonomi Dalam Permulaan Wacana Development
Teori
development dan modernisasi yang kini menjadi the mainstream teori dan praktek
perubahan sosial di Indonesia, belum dapat menciptakan dunia yang secara
mendasar lebih baik dan lebih adil (Andi Agust)
Tulisan
ini mencoba mengurai hasil penyelidikan penulis secara kritis terhadap gagasan 'development', yang menjadi sumber
wacana 'pembangunan' di Indoneisa. Karena itu, perhatian uraian bukan dari segi
bahasa, melainkan mencoba menstudi politik ekonomi dalam permulaan wacana
development, dan bagaimana development disebar-serapkan kedunia ketiga, serta
hubungannya dengan wacana 'pembangunan' di Indonesia sejak pemerintahan militer
Orde baru.
Developmentalisme
jelas dikembangkan dalam rangka membendung pengaruh dan semangat anti
Kapitalisme bagi berjuta rakyat di Dunia Ketiga. Gagasan development dimulai
tahun 1940an, khususnya pada tanggal 20 Januari 1949 saat President Amerika
Harry S.Truman mengumumkan kebijakan pemerintahnya, maka istilah development
dan "underdevelopment" resmi menjadi doktrin kebijakan luar negeri
AS. Selain dimaksud memberi jawaban atas penolakan bangsa Dunia Ketiga
yang baru merdeka atas kapitalisme, juga sebagai jawaban ideologi terhadap
meningkatnya daya tarik rakyat Dunia Ketiga terhadap keberhasilan Uni Sovyet
sebagai kekuatan baru ketika itu. Karena itu jelas gagasan development mulanya
dilontarkan dalam kerangka 'perang dingin' untuk membendung Sosialisme di Dunia
Ketiga. Tidaklah mengherankan jika banyak para penganalisa menempatkan gagasan development
pada dasarnya merupakan bungkus baru dari kapitalisme.
Bagaimana
pikiran development disebar luaskan kedunia ketiga? Para pakar ilmu sosial pada
tahun 1950 an dan 1960 an, memainkan peran diskursive. Mereka
yang berafiliasi pada the Centre for International Studies di
Massachusetts Institute of Technology membantu membangun akademik
wacana tentang development.
Dalam tahun 1968, para pakar ilmu sosial Amerika
terlibat secara mendalam dalam mempengaruhi kebijakan Amerika untuk globalisasi
wacana development dan modernisasi. Pakar ilmu sosial yang diminta oleh
Truman untuk melakukan "Conference on the implementation of Title
IX of the Foreign Assistance Act of 1961" dengan tugas utama
melakukan studi bagaimana kebijakan melahirkan the Foreign Assistance
Act of 1966, dimana dominasi interpetasi ilmuan liberal terhadap konsep
Development. Itulah
masa produktif menciptakan pengetahuan dan teori development dan modernisasi.
Ekonom Rostow menemukan "Growth theory"nya, dan waktu itu pula McClelland
dan Inkeles menemukan
teori Modernisasi. Salah satu hasil studi mereka bahwa gagasan development dan modernisasi harus
menjadi pilar utama bagi kebijaksanaan program bantuan dan politik luar negeri
Amerika.
Konsep development
dan modernisasi kemudian serta merta dianut oleh berjuta rakyat di Dunia Ketiga
yang pada dasarnya merupakan refleksi dari paradigma Barat tentang perubahan
sosial. Development, diidentikan
dengan gerakan menuju “higher modernity” Konsep ini mempunyai akar sejarah dan intektualitas perubahan sosial yang
diasosiasikan dengan revolusi industri di Eropa. Interpretasi
konsep development sebagian besar Dunia Ketiga dipahami sebagai “general
improvement in the standard of living”.
Gagasan Development dan modernisasi menjadi program
massif. Selain menjadi doktrin politik bantuan luar negeri Amerika baik pada
pemerintah Dunia Ketiga maupun LSM, juga serempak hampir di setiap universitas
di Barat membuka suatu kajian baru yang dikenal dengan “Development
Studies” sebagai proses mempercepat penyebar serapan kapitalisme
dipenjuru dunia. Tidak hanya itu, bahkan team ahli ilmu sosial tersebut
mengajukan proposal untuk menggunakan berbagai cara mendeseminasikan ideologi
'development' dan modernisasi dengan target bangsa dunia Ketiga.
Pengetahuan
Development yang diproduksi negara
Barat dikrimkan ke rakyat Dunia Ketiga bukanlah pengetahuan netral,
selain syarat dengan ideologi Barat juga terkandung nafsu untuk
mengontrol. Melalui wacana development,
dunia pertama menetapkan kontrol pada dunia ketiga, dimana dunia ketiga diberi
label “kekurangan” tentang hal yang
dapat dipenuhi oleh technology dan keahlian profesional. Dan hubungan inilah
menurut Mueler disebut sebagai hubungan imperialisme (Mueller,
1987). Escobar (1984) menggunakan analisa Foucault tentang
wacana terhadap pembangunan. Wacana development selanjutnya tidak
memberi legitimasi segala bentuk cara dan pengetahuan 'non-positivistic' seperti cara
pertanian tradisional digusur oleh green revolution serta menghancurkan segala
bentuk sosial formasi yang non-capitalistik. Seperti tradisi "gotong Royong" telah diganti oleh hubungan yang
kapitalistik. Dan terkahir ide development menghancurkan segala bentuk proses
politik yang dikenal doktrin modernisasi politik. Itu semua menujukkan
bahwa wacana
development merupakan suatu proses pendominasian secara intellektual, politik,
ideologi, ekonomi dan budaya. Demikian
wacana development tersebut berkembang, dan dimasing masing negara berkembang
wacana tersebut lebih dikembangkan secara mendalam lagi hingga sampai
dipedesaan termasuk di Indonesia. Sehingga bagi rakyat
Indonesia, gagasan pembangunan telah diterima tanpa pertanyaan. Perdebatan hanya dilakukan dalam
tingkat cara, metodologi serta teknik pelaksanaan belaka, dan bukan pada level
prinsipnya. Itulah mengapa bisa disimpulkan bahwa “developmentalisme” dewasa ini sudah diyakini oleh
sebagain besar birokrat pemerintahan, akademisi, dan bahkan aktivis LSM di
Indonesia sebagai satu satunya jalan menuju masyarakat sejahtera.
Lantas
persoalannya apa? Letak masalahnya adalah, apakah ideologi dan teori Development dan modernisasi yang kini
menjadi the mainstream teori dan praktek perubahan sosial itu, sejak dalam
gagasan dan konsepsi dasarnya terkandung gagasan akan terciptanya dunia yang
secara mendasar lebih baik dan lebih adil? Apakah gagasan development' yang
diciptakan sebagai bungkus baru dari kapitalisme yang diniatkan dalam rangka
membendung pengaruh sosialisme itu mampu menghancurkan struktur ekonomi yang
eksploitatif; menyingkirkan proses budaya dan pengetahuan yang dominatif,
melenyapkan sistim politik yang represif, melindungi lingkungan, serta
melenyapkan dominasi terhadap perempuan, sejak dari konsep dasarnya?
Inilah persoalan mendasar kita semua.

Posting Komentar